TUNTUNAN BERTAUBAT DARI DOSA BESAR 2


( Taubat dari kemunafikan )

Taubat dari kemunafikan ini adalah tidak sekadar mengungkapkan dan memberitahukan keisalamannya. Karena sebelumnya ia memang telah Islam. Namun, yang patut ia lakukan adalah agar ia bersifat dengan empat sifat yang disebutkan dalam surah an-Nisa. Setelah Al Quran membongkar sifat asli mereka, dan apa yang tersembunyi dalam diri mereka: yaitu mereka memberikan loyalitas mereka kepada kaum kafirin, bukan kaum mu'minin, serta mereka mencari kemuliaan dari kaum kafirin itu:

"Kabarkanlah kepada orang-orang munafik bahwa mereka akan mendapatkan siksaan yang pedih, (yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi teman-teman penolong dengan meninggalkan orang-orang mu'min. Apakah mereka mencari kekuatan di samping orang-orang kafir itu? Maka sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah." (QS. an-Nisa: 138-139).

Serta mereka selalu mencari kelengahan kaum mu'minin, dan berada di tengah-tengah antara kaum kaum mu'minin dan kaum kafirin untuk mencari keuntungan.

"(Yaitu) orang-orang yang menunggu-nunggu (peristiwa) yang akan terjadi pada dirimu (hai orang-orang mu'min). Maka jika terjadi bagimu kemenangan dari Allah mereka berkata: "Bukankah kami (turut berperang) beserta kamu?" dan jika orang-orang kafir mendapat keberuntungan (kemenangan) mereka berkata: 'Bukankah kami turut memenangkanmu, dan membela kamu dari orang-orang mukmin?" maka Allah akan memberi keputusan di antara kamu di hari kiamat dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang yang beriman." (QS. an-Nisa: 141).

Juga dari tindakan mereka mempermainkan dan menipu Allah dan Rasul-Nya, dan mereka malas menjalankan kewajiban-kewajiban agama dan lalai dari berdzikir kepada Allah SWT:

"Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan Shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali. Mereka dalam keadaan ragu-ragu antara yang demikian (iman atau kafir): tidak masuk kepada golongan ini (orang-orang beriman) dan tidak (pula) kepada golongan itu (orang-orang kafir). Barangsiapa yang disesatkan Allah , maka kamu sekali-kali tidak akan mendapat jalan (untuk memberi petunjuk) baginya." (QS. an-Nisa: 142-143).

Setelah Allah SWT membongkar sifat-sifat orang-orang munafik, namun Allah SWT tidak menutup pintu bagi mereka. Namun malah membukakan pintu taubat dengan syarat-syaratnya. Seperti firman Allah SWT:

"Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka. Kecuali orang-orang yang taubat dan mengadakan perbaikan dan berpegang teguh pada (agama) Allah dan tulus ikhlas (mengerjakan) agama mereka karena Allah. Maka mereka itu adalah bersama-sama orang beriman dan kelak Allah akan memberikan kepada orang-orang yang beriman pahala yang besar."( QS. An-Nisa: 145-146.)

Di antara tanda-tanda sempurnanya taubat mereka adalah mereka memperbaiki apa yang dirusak oleh sifat munafik mereka. Serta agar mereka hanya berpegang pada Allah SWT saja bukan kepada manusia. Dan dengan ikhlas beribadah kepada Allah SWT, hingga Allah SWT mengikhlaskan mereka untuk agama-Nya. Dengan itu, mereka bergabung ke dalam barisan kaum mu'minin yang jujur.

Dalam surah lain, Allah SWT berfirman:

"Mereka (orang-orang munafik itu) bersumpah dengan (nama) Allah, bahwa mereka tidak mengatakan (sesuatu yang menyakitimu). Sesungguhnya mereka telah mengucapkan perkataan kekafiran, dan telah menjadi kafir setelah Islam, dan mengingini apa yang mereka tidak dapat mencapainya; dan mereka tidak mencela (Allah dan Rasul-Nya), kecuali karena Allah dan Rasul-Nya telah melimpahkan karunia-Nya kepada mereka. Maka jika mereka bertaubat, itu adalah lebih baik bagi mereka, dan jika mereka berpaling, niscaya Allah akan mengazab mereka dengan azab yang pedih di dunia dan di akhirat; dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pelindung dan tidak (pula) penolong di muka bumi." (QS.at-Taubah: 74)

sumber Facebook Yusuf Mansur Network

Best Blogger Tips

TUNTUNAN BERTAUBAT DARI DOSA BESAR


Allah SWT juga menyebutkan taubat dari dosa-dosa besar. Seperti membunuh jiwa yang diharamkan oleh Allah SWT kecuali dengan haknya. Juga zina yang Allah SWT cap sebagai jalan yang buruk dan kotor. Dan al Quran menggolongkan kedua perbuatan dosa besar ini dalam kelompok dosa yang paling besar setelah syirik. Allah SWT berfirman tentang sifat ibadurrahman, "Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barangsiapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya), (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina, kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal shaleh; maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. al Furqan: 68-70)



Tampak banyak ayat-ayat berbicara tentang iman setelah taubat, dan menyambung antara keduanya. Seperti terdapat dalam ayat ini. Firman Allah SWT:


"Adapun orang yang bertaubat dan beriman, serta mengerjakan amal yang saleh, semoga dia termasuk orang-orang yang beruntung." (QS. al Qashash: 67). Serta firman Allah SWT setelah menyebutkan beberapa Rasul-Nya dan nabi-nabi-Nya serta para pengikut mereka yang saleh, yang apabila dibacakan kepada mereka ayat Al Quran mereka segera tunduk sujud dan menangis. Kemudian Allah SWT berfirman: 

"Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan. Kecuali orang yang bertaubat, beriman dan beramal saleh, maka mereka itu akan masuk surga dan tidak dianiaya (dirugikan) sedikitpun." (QS. Maryam: 59-60)

Dan seperti dalam firman Allah SWT:

"Dan sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang yang bertaubat , beriman , beramal saleh, kemudian tetap di jalan yang benar." (QS. Thahaa: 82)

Apa rahasia penggabungan ini, yaitu pengggabungan antara iman dengan taubat? Yang dapat aku tangkap, keimanan akan mengalami kerusakan ketika seseorang melakukan dosa besar. Hingga sebagian hadits menafikan keimanan itu dari orang-orang yang melakukan dosa besar ketika mereka melakukannya. Seperti dalam hadits Bukari Muslim dari Nabi Saw beliau bersabda:

"Tidaklah berzina orang yang berzina dan saat itu ia mu'min, dan tidak meminum khamar orang yang meminumnya dan saat itu ia mu'min, dan tidak pula mencuri orang yang mencuri dan saat itu ia mu'min".

Oleh karena itu, taubat adalah reparasi dan penyembuhan bagi keimanan yang mengalami kerusakan itu.

( Taubat dari Menyembunyikan Kebenaran )

Di antara dosa yang besar, yang ditunjukkan dan anjurkan al Quran agar kita segera bertaubat darinya adalah: dosa menyembunyikan kebenaran serta tidak menjelaskannya kepada manusia. Ini adalah dosa para ahli ilmu pengetahuan yang mempunyai kewajiban utnuk menyampaikan risalah-risalah Allah SWT, dan menjelaskan hukum Allah SWT kepada mereka. Serta mengatakan kebenaran, serta tidak menyembunyikannya, tidak seperti tindakan ahli kitab yang mendapatkan kecaman dari Allah SWT dalam firman-Nya:

"Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi kitab (yaitu): "Hendaklah kamu menerangkan isi kitab itu kepada manusia, dan jangan kamu menyembunyikannya," lalu mereka melemparkan janji itu ke belakang punggung mereka dan mereka menukarnya dengan harga yang sedikit. Amatlah buruk tukaran yang mereka terima." (QS. Ali Imran: 187).

Karena mereka menyembunyikan berita gembira akan datangnya Muhammad Saw yang terdapat dalam kitab-kitab mereka, serta mereka merubah dan menggantinya, karena semata kepentingan dunia, yang dinamakan oleh Allah SWT sebagai "harga yang murah". Seperti firman Allah SWT:

"Katakanlah: "Kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertakwa." (QS. an-Nisa: 77).

Allah SWT berfirman:

"Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah diturunkan Allah, yaitu al Kitab dan menjualnya dengan harga yang sedikit (murah), mereka itu sebenarnya tidak memakan (tidak menelan) ke dalam perutnya melainkan api, dan Allah tidak akan berbicara kepada mereka pada hari kiamat dan tidak akan mensucikan mereka dan bagi mereka siksa yang amat pedih. Mereka itulah orang-orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk dan siksa dengan ampunan. Maka alangkah beraninya mereka menentang api neraka!." (QS. al Baqarah: 174-175)

Lihatlah ancaman yang besar ini terhadap orang-orang yang menyembunyikan itu, yang mengandung ancaman material: "mereka itu sebenarnya tidak memakan (tidak menelan) ke dalam perutnya melainkan api ", serta maknawi: "dan Allah tidak akan berbicara kepada mereka pada hari kiamat dan tidak akan mensucikan mereka ", dan mereka mengalami kerugian dalam transaksi mereka: "Mereka itulah orang-orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk dan siksa dengan ampunan ". Itu semua semata karena mereka menyesatkan hamba-hamba Allah dengan menyembunyikan persaksian mereka akan kebenaran:

"Dan siapakah yang lebih zhalim daripada orang yang menyembunyikan syahadah dari Allah yang ada padanya?." (QS. Al Baqarah 140)

Oleh karena itu taubat amat diperintahkan secara kuat dari mereka semua, sehingga mereka selamat dari azab ini, serta dari laknat Allah SWT dan sekalian orang yang melaknat. Allah SWT berfirman:

"Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam al Kitab, mereka itu dilaknati Allah dan dilaknati (pula) oleh semua (mahluk) yang dapat melaknati, kecuali mereka yang telah taubat dan mengadakan perbaikan dan menerangkan (kebenaran), maka terhadap mereka itu Aku menerima taubatnya dan Akulah Yang Maha Menerima taubat lagi Maha Penyayang." (QS. al Baqarah: 159-160)

Agar taubat mereka diterima, disyaratkan agar: mereka memperbaiki apa yang mereka telah rusak, dan menjelaskan apa yang mereka sembunyikan.

Jika ini adalah dosa orang yang menyembunyikan kebenaran, maka dapat dibayangkan apa dosa orang yang "mendistorsi kebenaran" itu, serta menampakkan kebenaran itu seakan suatu yang bathil, sehingga manusia tidak memilihnya. Sementara mereka menghias kebathilan, dengan lidah dan tulisan mereka, sehingga manusia memilihnya? Tak diragukan lagi, dosa mereka lebih besar, dan kesalahan mereka lebih berbahaya. Dalam masalah ini banyak tergelincir penulis, pengarang, jurnalis, kalangan pers, seniman, para ahli pidato dan semacamnya. Yaitu mereka yang menciptakan opini publik serta menggerakkan kecenderungan mereka.

Taubat mereka tidak sah hanya dengan sekadar menyesal. Namun mereka harus memperbaiki dan menjelaskannya kepada orang banyak. Karena mereka telah banyak merusak akal dan dhamir banyak manusia, serta menyesatkannya. Mereka harus melenyapkan atau menarik peredaran faktor-faktor yang menyebabkan kerusakan itu, baik berupa buku, kaset, atau film dengan segala cara. Dan jika mereka tidak mampu maka mereka harus menjelaskan kepada khalayak melalui koran atau media lainnya. Dan mereka harus menjelaskan dengan gamblang sikap mereka yang baru dan kembalinya dia dari sikap dan tindakannya sebelumnya, dengan berani dan yakin (Seperti yang dilakukan oleh Dr. Mushthafa Mahmud, Khalid Muhammad Khalid, dan yang lainnya yang diberikan petunjuk oleh Allah SWT ).


HIKMAH KISAH TIGA ORANG BANI ISRAIL YG MENJADI ORANG KAYA BARU


Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata: Bahwa ia mendengar Nabi bersabda: Sungguhnya ada tiga orang Bani Israel, seorang berkulit belang, seorang berkepala botak dan yang lain matanya buta. Allah ingin menguji mereka, maka Dia mengirim malaikat. Malaikat ini mendatangi orang yang berkulit belang dan bertanya: Apa yang paling kamu sukai? Orang itu menjawab: Warna (kulit) yang bagus, kulit yang indah dan sembuhnya penyakit yang membuat orang jijik kepadaku. Malaikat tersebut mengusap tubuhnya, maka penyakitnya sembuh dan ia diberi warna yang bagus dan kulit yang indah. Malaikat bertanya lagi: Harta apa yang paling kamu senangi? Orang itu menjawab: Unta. Atau: Ia menjawab: Sapi. (Ishak ragu-ragu tentang itu). Lalu ia diberi unta yang hampir melahirkan lalu malaikat berkata: Semoga Allah memberkahinya untukmu. 


Kemudian ia mendatangi orang yang botak lalu bertanya: Apa yang paling kamu sukai? Orang itu berkata: Rambut yang indah dan sembuhnya penyakit yang membuat orang jijik kepadaku. Malaikat mengusapnya, maka penyakitnya sembuh dan ia diberi rambut yang indah. Malaikat bertanya lagi: Harta apa yang paling kamu senangi? ia menjawab: Sapi. Maka ia diberi sapi bunting lalu malaikat berkata: Semoga Allah memberkahinya untukmu. Kemudian malaikat mendatangi yang buta, lalu bertanya: Apa yang paling kamu sukai? Ia menjawab: Allah mengembalikan penglihatanku, sehingga aku dapat melihat manusia. Maka Malaikat mengusapnya, sehingga penglihatannya kembali normal. Malaikat itu bertanya lagi: Harta apa yang paling kamu sukai? Ia menjawab: Kambing. Maka ia diberi kambing yang beranak. Selanjutnya semua binatang yang diberikan itu beranak-pinak sehingga orang yang berpenyakit belang dapat mempunyai unta satu lembah, yang botak mempunyai sapi satu lembah dan yang asalnya buta memiliki kambing satu lembah. 

Pada suatu ketika malaikat kembali mendatangi orang yang berpenyakit belang dalam bentuk dan cara seperti ia dahulu lalu berkata: Aku orang miskin yang telah terputus seluruh sumber rezeki dalam perjalananku, maka pada hari ini tidak ada lagi pengharapan, kecuali kepada Allah dan kamu. Demi Tuhan yang telah menganugerahimu warna yang bagus, kulit yang indah serta harta benda, aku minta seekor unta untuk membantuku dalam perjalanan. Orang itu berkata: Masih banyak sekali hak-hak yang harus kupenuhi. Maka malaikat itu berkata kepadanya: Aku seperti mengenal kamu, bukankah kamu yang dahulu berpenyakit kulit belang yang manusia jijik kepadamu, serta yang dahulu fakir lalu diberi harta oleh Allah? Orang itu berkata: Aku mewarisi harta ini secara turun-temurun. Malaikat berkata: Kalau kamu berdusta, semoga Allah menjadikan kamu seperti dahulu lagi. Setelah itu malaikat tadi mendatangi orang yang dahulu botak dalam bentuknya seperti dahulu lalu berkata kepadanya seperti apa yang dikatakannya kepada orang yang berkulit belang, dan orang itu menjawabnya seperti jawaban orang yang belang tadi. Maka malaikat berkata: Jika kamu berdusta, semoga Allah menjadikan kamu seperti dahulu lagi. 

Kemudian sesudah itu malaikat mendatangi orang yang dahulu buta dalam bentuk dan cara seperti dahulu lalu berkata: Aku orang miskin yang mengembara dan telah terputus seluruh sumber rezeki dalam perjalananku, maka pada hari ini tidak ada lagi pengharapan, kecuali kepada Allah dan kamu. Demi Tuhan yang telah memulihkan penglihatanmu, aku minta seekot kambing untuk membantuku dalam perjalanan. Orang itu berkata: Dahulu aku buta, lalu Allah memulihkan penglihatanku, maka ambillah apa yang kamu inginkan dan tinggalkanlah apa yang tidak kamu inginkan. Demi Allah aku tidak akan membebani kamu untuk mengembalikan sesuatu yang telah kamu ambil untuk Allah. Maka malaikat berkata: Peganglah hartamu itu semua, karena kamu sekalian hanya sekedar diuji, kamu telah diridai Tuhan, sedangkan kedua sahabatmu telah dimurkai Allah. (Shahih Muslim No.5265)

Sumber Facebook Yusuf Mansur Network

KISAH SEDEKAHNYA PAK SATPAM

cerita-cerita islam, KISAH SEDEKAHNYA PAK SATPAM

Assalammualaikum wr wb, segala puji bagi ALLAH Swt yg telah memberikan kesehatan bagi kita semua. kali ini saya akan memberikan cerita yang saya ambil dari Facebook ustad Yusuf Mansur Network semoga cerita ini bisa lebih mendekatkan kita kepada ALLAH Swt. Amiin

Al An'am 160: "Setiap amal kebaikan akan dibalas 10 kali lipat dari amalnya." 


Ketika Yusuf Mansur melintasi di suatu daerah, dia tiba-tiba terbangun dari kursi tengah mobil mewah yang dia naiki. Sambil memperbaiki posisi duduknya, Yusuf berpesan kepada sopir pribadinya untuk singgah sejenak di pom bensin. "Masih penuh ustaz," jawab sopir dengan melihat indikasi tangki bensin. Mendengar jawaban sopir, Yusuf langsung menimpali "Saya kebelet, pengen ke toilet sebentar," katanya sambil melihat sopirnya melalui spion tengah di dalam mobil. Tidak lama melaju, mobil Yusuf singgah di pom bensin. Sambil berjalan cepat, Yusuf menuju pintu toilet yang berada di belakang tempat pengisian bahan bakar. Namun langkah Yusuf terhenti ketika seorang satpam pom bensin berteriak memanggilnya.



Dengan langkah cepat, si satpam mendekati Yusuf dan berkata "Alhamdullilah ketemu ustaz di sini, biasanya cuma di televisi," kata si satpam. Setelah basa-basi, si satpam mengutarakan maksudnya kepada Yusuf, dia mengaku bosan menjadi satpam meski gaji yang didapatnya terbilang cukup besar untuk seukuran satpam daerah.

Si satpam merasa hidupnya tidak banyak berubah. Dia mengeluhkan kehidupannya yang selalu berjalan monoton. Padahal si satpam sudah rajin salat, namun belum juga mendapat perubahan yang lebih baik lagi dari Allah SWT.

Keluh kesah si satpam memutuskan Yusuf untuk mengajaknya duduk di minimarket, dalam kompleks pom bensin. Sambil menikmati kopi sore hari, si satpam menceritakan kisah hidupnya, hingga akhirnya Yusuf bisa menarik sebuah kesimpulan utama. Si satpam menginginkan rizki yang banyak, namun belum banyak waktu untuk mengingat Allah.

Memang si satpam rajin salat lima waktu, namun selalu salat di akhir waktu. Meski menyadari kesalahannya itu, si satpam selalu berkilah dengan memandang semua perbuatan baik adalah ibadah, tanpa melihat prioritas dan waktu dari ibadah itu sendiri.

"Memang bekerja jika dimaknai ibadah juga bisa, semua perbuatan baik jika diniati ibadah juga bisa, tapi jangan lupa untuk memprioritaskan ibadah primer dulu, seperti salat lima waktu. Kamu (si satpam) sholat ashar jam setengah 5 sore, padahal waktu asar jam 3, itu sama halnya kamu meninggalkan Allah sejauh satu setengah jam."

Jika sehari dikali lima, bagaimana dengan sebulan, setahun, atau ketika pertama kali kamu pertama kali balig? Sudah berapa jauh kamu meninggalkan Allah SWT," lanjut Yusuf.

Di akhir pembicaraan di minimarket itu, Yusuf berpesan kepada satpam untuk memperbaiki salatnya. Kemudian menyuruh si satpam untuk bersedekah untuk mempercepat balasan Allah SWT.

"Ini yang sulit ustaz," kata satpam memotong pembicaraan Yusuf. Menurutnya gaji yang diterimanya sebesar Rp 1.700,000 perbulan, sangat pas untuk memenuhi kebutuhan bulanannya, termasuk bayar kontrakan dan cicilan sepeda motor miliknya sebesar Rp 900 ribu perbulannya. Bahkan tidak jarang, si satpam sudah berhutang di kios tetangganya pada pertengahan bulan. "Duit sedekah darimana ustaz?" terangnya.

"Motor kamu saja dijual, nanti uangnya kamu sedekahkan semua. Insya Allah akan cepat dibalas," sahut Yusuf.

Mendengar jawaban Yusuf, si satpam buru-buru mengatakan keberatannya. Sebab tidak mungkin untuknya pergi bekerja tanpa mengendarai sepeda motor.

Akhirnya Yusuf menantang si satpam untuk kasbon, meminta awal gaji bulanannya kepada perusahaan untuk disedekahkan. Awalnya si satpam ragu, namun melihat keseriusan dan janji Allah SWT yang diterangkan Yusuf, membuat si satpam memberanikan diri menghadap atasan.

Setelah permasalahan si satpam teratasi, Yusuf pamit untuk melanjutkan perjalanannya yang sempat tertunda. Sedangkan si satpam, segera bergegas ke ruangan pemimpin untuk mengutarakan maksudnya. Singkat cerita, akhirnya si satpam berhasil meyakinkan atasan untuk kasbon Rp 1.700,000 dan segera menyedekahkannya.

Dengan keyakinan kebenaran janji Allah, si satpam melewati hari demi hari dengan rajin salat wajib tepat waktu dan konsisten melaksanakan salat sunnah. Hingga akhirnya si satpam merasakan manisnya janji Allah ketika dia bertemu dengan orang kaya yang sedang bingung mencari tanah. Tidak banyak peran dia, si satpam hanya bertugas sebagai perantara antara pembeli yaitu orang kaya itu, dengan penjual yang masih tetangganya di kampung.

Tidak membutuhkan waktu berbulan-bulan, Allah persis mengganti sedekahnya dengan melipatkan komisinya sebesar Rp 17.000,000. "Alhamdullilaah," puji si satpam kepada kebesaran Allah SWT.

Kini si satpam tidak lagi meragukan kebenaran janji Allah, bahkan motor kesayangannya dia jual untuk membantu mewujudkan impian ibunya berhaji.

Tidak berhenti sampai di situ, mengetahui si satpam adalah lulusan S1 akuntansi, akhirnya perusahaan mengangkat jabatannya. Kini mantan satpam itu telah menjadi staf keuangan di induk perusahaan yang lebih besar.

Nabi Muhammad SAW bersabda, “Tidak seorangpun yang menyedekahkan hartanya yang halal dimana Allah menerimanya dengan kananNya (dengan baik), walaupun sedekahnya itu hanya sebutir kurma. Maka kurma tersebut akan bertambah besar di tangan Allah Yang Maha Pengasih, sehingga menjadi lebih besar daripada gunung. Demikian Allah memelihara sedekahmu, sebagaimana halnya kamu memelihara anak kambing dan unta (semakin hari semakin besar).” (HR. Muslim).

Sumber Facebook Yusuf Mansur Network

Syarat – syarat Doa yang Dikabulkan



Apakah syarat-syarat doa yang dikabulkan tersebut? Mungkin selama ini Anda selalu berdoa untuk kebaikan kehidupan Anda. Namun rupanya apa yang Anda doakan tersebut tak kunjung juga diberikan oleh Allah SWT.

Benarkah Allah tidak mengabulkan apa yang Anda minta? Jangan berburuk sangka bahwa Allah tidak mengabulkan apa yang menjadi keinginan Anda, tapi periksalah lebih dulu, apakah Anda sudah menjadi seorang yang layak diterima doanya?

Dan apakah Anda mengetahui apa saja syarat-syarat doa yang dikabulkan tersebut?

Apa saja syarat-syarat untuk doa yang dikabulkan? Berikut ini beberapa hal yang perlu Anda perhatikan sebelum berdoa kepada Allah dan menjadi syarat bagi terkabulnya doa yang Anda mohonkan pada Allah SWT:

1. Jangan berdoa untuk hal-hal kemaksiatan. Doa yang dikabulkan adalah doa yang baik-baik.

2. Jangan berputus asa dan berprasangka buruk pada Allah bahwa doa-doa Anda tidak dikabulkan oleh Allah SWT. Keistiqomahan Anda dalam meminta kepada Allah merupakan cerminan dari keimanan. Orang-orang yang lemah imannya akan mudah berputus asa dalam doanya kepada Allah SWT.

3. Syarat untuk doa yang dikabulkan selanjutnya adalah, iringi doa dengan amal ibadah dan tinggalkan kemaksiatan. Ibarat seorang anak yang meminta kepada orang tuanya, maka orang tua akan lebih mudah mengabulkan apa yang menjadi permintaan si anak apabila si anak taat dan patuh padanya, tidak membuat si orang tua marah.

4. Carilah waktu-waktu dan tempat mustajab untuk melakukan doa-doa. Waktu-waktu mustajab di antaranya adalah pada saat hujan turun, sepertiga malam, usai shalat fardhu, pada saat Anda teraniaya, antara adzan dan iqomah dan lain sebagainya. Sementara tempat-tempat mustajab untuk berdoa adalah baitullah dan tempat-tempat di tanah suci. Berdoalah untuk kebaikan, bukan dalam hal kemaksiatan atau urusan dunia yang nista.

5. Doa yang dikabulkan juga bisa kita dapatkan dari orang lain yang mendoakan kita. Lakukan sedekah yang bernilai besar, dan mintalah doa dari orang yang Anda sedekahi terhadap hajat hidup yang menjadi keinginan Anda. Insya Allah ini merupakan cara agar doa Anda bisa dikabulkan secara lebih mudah.

Masih banyak cara-cara lain untuk doa yang dikabulkan. Meminta doa kepada orang tua merupakan hal yang tak kalah penting untuk terkabulnya apa yang Anda inginkan. Doa orang tua adalah senjata dalam hidup.

Mungkin kita tidak sadar bahwa kesuksesan hidup yang kita jalani saat ini adalah buah dari doa-doa orang tua kita.

Memuliakan orang tua dan mengharap doa-doa dari mereka adalah cara Anda untuk lebih bahagia dalam menjalani hidup. Doa orang tua adalah doa yang selalu akan didengar oleh Allah SWT. Muliakan lah orang tua dan carilah keridhaan dan doa-doanya, maka hidup kita akan bahagia dunia akhirat.

SUMBER:http://renunganislami.net/

Cara Membuka Pintu – Pintu Rezeki



Bagaimanakah cara membuka pintu-pintu rezeki? Setiap manusia tentunya ingin agar mereka dikaruniai rezeki yang banyak, bukan hanya harta namun juga ketenangan dalam hidup atau rezeki-rezeki lain yang tak kalah penting seperti anak, jodoh dan lain sebagainya.

Rezeki setiap orang memang tidak sama, setiap kita telah dijatah oleh Allah dengan rezeki-rezeki yang kita butuhkan. Allah Maha Mengetahui apa yang menjadi kebutuhan kita, dan Allah akan memberikan pada kita apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan.

Meskipun demikian, setiap manusia memiliki peluang yang sama untuk membuka pintu-pintu rezeki. Dibentangkang bumi dan seisinya sebagai tempat manusia mencari rezeki.

Besar kecilnya rezeki tentunya bergantung dari sebesar apa usaha yang dilakukan, sebanyak apa doa yang dipanjatkan dan lain sebagainya. Dan yang paling penting adalah, Allah lah yang tahu kelayakan hamba-hamba-Nya untuk menerima seberapa besar rezeki yang pantas untuk dirinya.

Jangan berprasangka buruk kepada Allah apabila rezeki yang kita terima sedikit, karena Allah Maha Mengetahui apa yang tidak kita ketahui. Bisa jadi apabila kita dikaruniakan rezeki yang berlimpah maka kita akan kufur. Oleh karena itu, Allah lah yang Maha Mengetahui kelayakan atas hamba-hamba-Nya dalam mendapatkan rezeki.

Apa saja yang bisa menjadi cara membuka pintu-pintu rezeki? Berikut ini beberapa diantaranya:

1. Memperbanyak ibadah kepada Allah, terutama shalat malam, shalat dhuha dan tilawah Al Quran. Jangan menyepelekan ibadah harian Anda, karena inilah kunci dari mengalirnya rezeki yang diberikan kepada Allah SWT. Ingat bahwa bumi dan isinya adalah kepunyaan Allah, maka minta lah rezeki itu pada pemiliknya.

2. Memperbanyak silaturahim. Membuka pintu-pintu rezeki juga bisa dilakukan dengan memperbanyak silaturahim, atau dengan kata lain membangun banyak link dan jaringan. Tawaran-tawaran akan mengalir apabila Anda memiliki banyak relasi, dan dari sinilah pintu rezeki akan terbuka.

3. Sedekah. Ini merupakan cara membuka pintu-pintu rezeki yang bisa menjadi solusi atas kebutuhan rezeki apapun yang Anda inginkan. Apapun masalah dalam hidup ini bisa Anda selesaikan dengan ibadah yang satu ini.

Ingin punya jodoh, ingin bergaji besar, ingin punya rumah, ingin punya anak, ingin sembuh dari penyakit, dan lain sebagainya bisa Anda selesaikan dengan sedekah. Semakin besar sedekah Anda dan semakin ikhlas dan sering Anda melakukan sedekah maka cara membuka pintu-pintu rezeki itu sudah Anda lakukan dengan baik, tinggal menunggu hasilnya.

Lakukan 3 cara membuka pintu-pintu rezeki di atas secara beriringan, maka Anda akan mendapatkan hasil yang lebih maksimal. Rezeki itu bukan ditunggu, tapi dijemput. Maka bertebaran lah di muka bumi untuk mencari rezeki yang halal yang dikaruniakan Allah kepada hamba-hamba-Nya.

SUMBER:http://renunganislami.net/

Doa Anak Sholeh Kepada Kedua Orang Tua



Doa indah kepada kedua orang tua kita merupakan salah satu bukti dan cerminan keshalehan kita sebagai seorang anak. Anak shaleh adalah anak yang selalu mendoakan kedua orang tuanya untuk kebaikan hidup mereka baik di dunia maupun akhirat.

Doa seorang anak kepada orang tuanya termasuk ke dalam investasi amal pahala yang ditinggalkan oleh seorang manusia yang telah meninggal dunia, dimana pahalanya akan terus mengalir dan tidak terputus. Inilah salah satu keuntungan memiliki anak yang shaleh. Anak tersebut akan terus mendoakan orang tuanya, meskipun orang tuanya sudah tiada.

Doa indah kepada kedua orang tua yang lahir dari anak-anak kita merupakan buah dari keberhasilan kita dalam mendidik anak yang shaleh.

Semakin shaleh anak yang kita didik, maka akan semakin indah dan baik lah doa-doa anak-anak pada kita. Gagal mendidik anak artinya kita gagal memiliki investasi amal pahala yang mengalir saat kita telah meninggal kan alam dunia ini.

Anak shaleh adalah anaknya yang tak pernah kasar pada orang tuanya, tidak pernah berkata ah dan tidak menolak saat disuruh dalam melakukan kebaikan. Anak yang shaleh akan mendoakan banyak hal-hal indah pada kita sebagai orang tua. Beberapa doa indah kepada kedua orang tua yang dilantunkan oleh para anak shaleh diantaranya adalah sebagai berikut:


1. Doa agar diselamatkan dari azab kubur maupun azab siksa api neraka.

Inilah doa anak shaleh yang akan menjadi penerang para orang tua yang telah meninggalkan alam dunia fana. Terhindar dari azab dan siksaan Allah yang Maha dahsyat merupakan hal yang harus didoakan oleh seorang anak shaleh terhadap para orang tuanya.

2. Doa agar dimasukkan ke dalam syurag dan berkumpul kembali besama keluarganya yang di dunia. Anak shaleh akan mendoakan orang tuanya agar dimasukkan ke dalam syurga, lalu berkumpul kembali dengan keluarga tercintanya di muka bumi ini.

3. Doa afar diberikan kemudahan hidup di dunia, segala urusan, rezeki, panjang umur dan sebagainya. Anak yang shaleh, sebelum orang tuanya meninggal, maka ia juga telah memberikan doa-doa terbaik untuk kedua orang tuanya. Ini merupakan keberhasilan orang tua dalam mendidik anak-anaknya.

Tak ada cara lain bagi kita yang menginginkan doa indah kepada kedua orang tua dari anak-anak kita kecuali dengan cara mendidik anak tersebut agar bisa menjadi anak yang shaleh.

Jika anak tersebut tidak shaleh, jangan kan untuk mendoakan kedua orang tuanya, mengurusi masalah pribadi saja ia mungkin tak sanggup, ia selalu membuat orang tua susah, tak hanya di dunia bahkan juga diakhirat. Jadikan anak-anak kita sebagai aset penolong kita masuk syurga.

Menanam Kebaikan, Memanen Kemuliaan Hidup



Menanam kebaikan akan berbuah dengan hasil memanen kemuliaan hidup. Orang yang mulia dalam hidupnya adalah orang yang banyak berbuat baik. Sebaliknya, orang yang selalu berbuat buruk maka ia akan mengalami kesengsaraan dan kehinaan dalam hidup. Inilah sebuah sunnatullah yang akan kita raih dalam kehidupan.

Orang-orang mulia adalah mereka yang banyak melakukan amal pahala kebaikan. Pahala yang mereka lakukan akan berbuah pada kemuliaan hidup.

Orang akan merasa senang berinteraksi, nyaman dan merasa orang bersangkutan memiliki banyak manfaat bagi kehidupannya.

Menanam kebaikan akan berbuah pada memanen kemuliaan hidup. Kemuliaan diri terpulang dari bagaimana sikap yang kita tunjukkan dalam hidup. Apabila kita menjadi seorang yang baik, maka sudah wajar jika kita akan disenangi banyak orang, kemuliaan akan terpancar.

Kemuliaan diri akan terpancar apabila kita banyak melakukan amal shaleh, ibadah baik ibadah fardhu kepada Allah, ibadah sunnah maupun berbagai bentuk ibadah sosial di tengah masyarakat.

Menanam kebaikan bukan hanya akan dibalas dengan memanen kemuliaan hidup. Ada beberapa hikmah besar yang akan bisa kita rasakan apabila selalu konsisten melakukan dan menanam kebaikan di tengah masyarakat:

1. Pahala yang pasti di akhirat kelak. Menanam kebaikan bukan hanya untuk memanen kemuliaan hidup. Hal paling utama adalah mendapatkan balasan pahala dari Allah SWT yang besar kelak di akhirat, dan mendapatkan hadiah syurga.

Inilah buah kebaikan hakiki yang dirindukan banyak orang. Kebaikan yang diiringi dengan keikhlasan akan memberikan orientasi hakiki berupa balasan syurga di akhirat. Sementara untuk mereka yang riya atau pamer dalam melakukan sebuah amal kebaikan, maka yang didapatkan adalah seperti apa yang diniatkannya.

Jika ia menginginkan pujian orang, maka ia akan mendapatkannya, jika ia menginginkan balasan maka ia akan mendapatkan imbalan dari manusia, sebaliknya ia tidak akan mendapatkan pahala berupa syurga di akhirat. Apa yang akan kita dapatkan adalah apa yang kita niatkan. Inilah hal yang membuat betapa pentingnya niat yang ditanam dalam setiap amal kebaikan yang kita lakukan.

2. Disamping menanam kebaikan akan berbuah pada kemuliaan hidup, melakukan kebaikan dalam hidup akan membuat kita merasakan kebahagiaan hidup.

Amal kebaikan adalah awal dari kebahagiaan. Terlebih jika amal kebaikan tersebut kita lakukan ikhlas karena Allah semata, maka kebahagiaan yang akan kita panen bukan hanya kebahagiaan di dunia tapi juga akan kekal kita rasakan di akhirat.

Menanam Kebaikan, memanen Kemuliaan Hidup merupakan dua hal yang akan saling beriringan. Orang yang dalam hidupnya jarang melakukan amal kebaikan, maka hidupnya pun akan jauh dari kemuliaan.

Hidupnya akan dipandang rendah di tengah masyarakat, sebagai akibat dosa-dosa yang mungkin lebih banyak dilakukannya. 

SUMBER:http://renunganislami.net/

Metode Mendidik Anak agar Hidup Sholeh dan Mulia



Tahukah Anda bagaimana cara mendidik anak agar hidup shaleh dan mulia? Banyak kita melihat orang tua yang shaleh namun anak-anak mereka jutsru sebaliknya.

Iman memang tak dapat diwarisi, namun upaya untuk mendidik anak secara benar memberikan peluang yang besar menjadikan anak menjadi sosok yang shaleh yang bisa lebih baik dari pada ayah dan ibunya. Tak banyak orang yang tahu bagaimana cara mendidik anak agar hidup shaleh dan mulia.

Hampir sebagian besar anak-anak hidup dengan miskin suri tauladan ketaatan dalam hal agama di dalam keluarganya. Belum lagi persiapan pemahaman agama yang kurang dari pasangan yang akan menikah, sehingga menikah betul-betul tanpa persiapan, hanya dilakukan karena menyukai secara fisik saja.

Ada beberapa langkah dan cara yang bisa dilakukan agar memiliki anak yang shaleh dan mulia. Berikut ini beberapa cara mendidik anak agar hidup shaleh dan mulia:

1. Dimulai dari memilih pasangah hidup
Pilihlah pasangan hidup yang terbaik kualitas agamanya, dengan demikian langkah awal Anda untuk menghasilkan seorang anak shaleh akan terbuka. Pemahaman agama para orang tua akan sangat berpengaruh bagaimana cara ia mendidik anak-anaknya. Semakin bagus kualitas agama orang tua, maka akan memberikan efek yang lebih besar terhadap perkembangan keshalehan si anak.

2. Dilanjutkan di alam kandungan
Mengenalkan Islam dan keshalehan harus sudah dimulai pada saat anak berada di alam kandungan. Berkomitmen lah mengenalkan anak pada bacaan-bacaan ayat Al Quran. Akan lebih baik jika bacaan tersebut langsung ke luar dari mulut orang tuanya. Kenalkan lah suara azan, waktu-waktu shalat atau bacaan ayat-ayat pendek. Menjaga emosi orang tua, rajin-rajinlah melakukan berbagai amalan sunnah pada saat mengandung.

3. Didikan di masa kanak-kanak
Cara mendidik anak agar hidup shaleh dan mulia dilanjutkan setelah anak lahir.

Misalnya dengan mengenalkan jilbab sedini mungkin pada anak-anak putri. Mengajak mereka pada usia dini untuk melakukan berbagai ibadah seperti shalat malam, jamaah di masjid dan lain sebagainya. Inilah pembiasaan yang harus dilakukan jika Anda punya cita-cita memiliki anak yang shaleh sebagai aset Anda setelah meninggal nanti.

4. Mendidik hingga dewasa dan mencarikan jodoh bagi mereka
Kewajiban orang tua dalam mendidik anak agar hidup shaleh dan mulia dilakukan hingga sampai si anak menemukan jodoh. Para orang tua punya kewajiban memilihkan anak-anak mereka jodoh yang shaleh dan shalehah untuk melanjutkan keturunan shaleh berikutnya. Orang tua memiliki tanggung jawab pada pilihan seperti apa jodoh untuk anaknya.

Terlebih jika untuk menjaga keshalehan, maka pilih lah jodoh yang shaleh untuk anak-anak kita. 

Tahapan dan Teknik Agar Shalat Lebih Khusyu’



Lalu bagaimana agar shalat kita khusyu’? Sebagai fondasi dasar kita harus membuang anggapan bahwa shalat khusyu’ itu adalah berat apa lagi mengatakan tidak mungkin. Kita yakin bahwa apa yang diperintahkan Allah kepada kita, apa pun itu, kita pasti sanggup melakukannya termasuk shalat khusyu’.

Sering kali kita tidak mengetahui bagaimana cara melakukan sesuatu karena kita belum mengetahui caranya. Termasuk mengerjakan shalat khusyu’, jika kita mengetahui caranya, kita insya Allah akan bisa.

Jika kita meneliti kembali ayat Al Quran dan hadits berkaitan dengan shalat khusyu’, sebenarnya Allah sudah membimbing kita agar kita bisa melakukan shalat khusyu’.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu sholat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga tak mengerti apa yang kamu ucapkan.” (QS. An-Nisa 4 : 43)

Berdasarkan ayat disini, kita harus mengerti apa yang kita ucapkan. Konteks ayat ini berkaitan dengan mabuk, sebab orang mabuk tidak akan mengeri apa yang diucapkan. Namun bagi kita orang Indonesia, bukan hanya kesadaran yang menjadi tantangan tetapi juga kemampuan bahasa.

Para sahabat pun sering kali bertanya kepada Rasulullah saw tentang maksud sebuah ayat, padahal mereka berbahasa Arab, apalagi bagi kita. Oleh karena itu, kita perlu memberikan perhatian khusus dalam hal ini, yaitu bagaimana kita mengerti apa yang kita ucapkan meski pun kita tidak mabuk.

Tingkat pemahaman ternyata menentukan tingkat diterima atau tidaknya shalat kita, sebagaimana hadits Rasulullah saw berikut ini:

“Seorang hamba tidak akan mendapatkan apa-apa dari shalatnya melainkan apa yang dia pahami dan sadari.” (HR. Az Zubaidi)
Tidak akan mendapatkan apa-apa, termasuk pahala dan manfaatnya, jika dia tidak memahami dan tidak menyadarinya. Bisa jadi Anda hanya mendapatkan setengah, sepetiga, seperempat, seperlima atau sepersepuluh.

“Sesungguhnya pelaku ibadah itu mengira telah menengakkan shalat (seutuhnya), padahal tidaklah tertulis baginya kecuali setengah shalat, sepertiganya, seperempatnya, seperlimanya, atau sepersepuluhnya.” (HR Ahmad dan Abu Dawud)

Maka kita bisa mengambil kesimpulan dari hadits dan ayat Al Quran diatas bahwa salah satu cara mendirikan shalat yang benar kita harus memiliki pemahaman dan kesadaran terhadap apa yang kita baca. Pemahaman adalah mengerti apa yang dibaca dan kesadaran adalah menyadari apa yang dia katakan dan lakukan dari awal sampai akhir shalat.

Untuk masalah pengertian atau pemahaman, maka jika kita ingin khusyu’ saat shalat maka hafal saja tidak cukup. Kita harus bisa memahami setiap bacaan yang kita baca dalam shalat, mulai dari niat (jika membaca lafal niat), do’a ifittah, Surah al Fatihah, surah yang Anda baca setelah A Fatihah, bacaan saat ruku’, bacaan saat i’tidal, bacaan saat sujud, do’a diantara dua sujud, dan tahiyat.

Cek, apakah Anda sudah hafal semuanya? Jika belum, maka silahkan Anda buka buku panduan shalat atau bertanya kepada ustadz Anda. Sekarang sudah banyak buku tuntutan shalat yang dengan mudah Anda temukan di berbagai toko buku. Silahkan hafalkan artinya sampai benar-benar lancar.


Kita akan sulit menghadirkan Allah jika apa yang kita baca tidak paham dan tidak disadari. Maka pemahaman dan kesadaran ini akan membawa kepada kita agar mampu menghadirkan Allah dalam hati kita pada saat kita sedang shalat. Setiap gerakan dan bacaan akan selalu berhubungan dengan Allah, oleh karena itu, jika kita memahaminya, maka kita akan menghadirkan Allah secara otomatis.


Kondisi Keimanan Kita
Jika kita melihat penyebab mengapa kita tidak khusyu’ yang dibahas pada bab sebelumnya, bahkan penyebab yang cukup mendasar adalah masalah kondisi iman kita. Apakah iman itu hadir dalam hati kita atau tidak? Jika iman sudah hadir di hati dengan kuat, maka anggapan beban dan anggapan sulit langsung akan sirna. Untuk itu, masalah keimanan adalah langkah pertama yang harus diperbaiki.


Untuk meningkatkan keimanan memang memerlukan waktu pembinaan dan shalat adalah salah satu pembinaan keimanan kita. Shalat mencegah perbuatan keji dan munkar. Oleh karena keimanan dan shalat akan saling menguatkan. Sambil kita berusaha meningkatkan iman kita, maka kita bisa mencoba membangkitkan iman kita setidaknya setiap kita akan melakukan shalat.


Re-Declare: Purpose of Your Life
Untuk itulah agar kita bisa shalat dengan khusyu’ langkah pertamanya dengan mendeklarasikan ulang dan terus menerus apa tujuan hidup kita? Ini untuk mengingatkan kembali kepada diri kita sendiri (dzikr) tentang tujuan penciptaan kita. Pengingatkan kembali ini akan membangkitkan keimanan dan kesadaran bahwa tidak ada tujuan lain hidup kita kecuali ibadah.



Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. (QS Adz Dzaariyaaat: 56)


Diharapkan re-declare ini bisa membangkitkan kembali iman kita dan spirit untuk melakukan ibadah. Jika tujuan hidup kita hanya ibadah, maka tidak boleh ada hal selain ibadah dalam hidup kita. Semua tindakan kita harus dalam rangka ibadah. Dan, salah satu kunci ibadah itu adalah shalat, diterima atau tidaknya ibadah lain, shalat yang menjadi patokannya.


“Amal yang pertama-tama ditanyai Allak pada hamba di hari kiamat nanti ialah amalan shalat. Bila shalatnya dapat diterima, maka akan diterimu seluruh amalnya, dan bila shalatnya ditolak akan tertolak pula seluruh amalnya.” (HR Ahmad, Abu Dawud)

Dengan menegaskan kembali tujuan penciptaan kita, kita akan menyadari bahwa kita sungguh rugi kita hidup bukan untuk ibadah atau ibadah kita tidak ada yang diterima karena shalat kita yang tidak khusyu’. Dengan ini motivasi untuk melakukan shalat dengan khusyu’ akan menjadi besar. Tidak ada kata sulit, berat, dan tidak mungkin, insya Allah Anda pasti bisa.


Kalau pun untuk khusyu’ itu memang berat, apakah ada pilihan lain? Namun orang yang beriman tidak akan bertanya seperti ini, dia akan selalu menganggap ada kebaikan dibalik setiap perintah. Maka apa pun perintahnya, sebagai hamba-Nya, kita harus menerima dengan senang hati. Bahkan bersyukur masih mendapatkan kesempatan untuk menjalankannya.


Sesaat kita akan shalat:


• Ingatlah bahwa tujuan kita hanya mengabdi kepada-Nya.

• Ingatlah bahwa kita akan mati, mungkin besok, mungkin shalat ini adalah shalat terakhir
• Ingatlah bahwa kita akan kembali kepada-Nya. Lalu bekal apa yang bisa bawa? Bisa saja hanya shalat inilah satu-satunya kesempatan kita bisa membawa bekal



Renungkan, rasakan, sampai hati kita bergetar. Diam sejenak, renungkan dengan mendalam. Bersikaplah rileks, lupakan semua hal selain shalat yang ada di depan kita. Rasakan hati kita sudah tersambung dengan Zat Yang Maha Meliputi segala sesuatu.


Rasakan Kehadiran Anda
Saat ini Anda sudah masuk ke dalam sebuah kesadaran bahwa Anda akan menghadap dan bermunajat kepada-Nya dalam shalat. Rasakan kehadiran Anda, bahwa Anda akan melaksanakan perintah agung dari Yang Mahaagung. Sadari bahwa Anda berdiri (atau duduk/berbaring bagi yang tidak mampu berdiri) menghadap Ka’bah sebagai kiblat kita. Anggaplah kiblat itu ada di hadapan kita.


Pertahankan kesadaran ini. Kemudian berniatlah seraya takbiratul ikhram, niatkan bahwa shalat ini hanya karena Allah. Ingat, niat ada di hati, jadi saat Anda berniat harus benar-benar keluar dari hati.

Sekali lagi jaga kesadaran saat Anda membaca semua bacaan dan do’a dalam shalat. Pastikan Anda menyadari dari kata ke kata. Lakukan saja secara perlahan untuk memastikan kita memahami dan menyadari setiap kata yang kita ucapkan.

Tantangan memang akan datang. Syaithan tidak mau kita sukses dalam shalat dan akan berusaha membuat kita tergelincir. Mungkin syaitan akan mengingatkan kita terhadap apa yang kita lupakan, mungkin syaithan malah mengingatkan akan ide baru, atau mengarahkan lamunan kita sehingga melayang entah ke mana.

Jangan biarkan. Ingat Allah maka syaithan akan pergi. Anda bisa kembali ke bacaan Anda dan gerakan Anda. Jaga kembali kesadaran akan setiap bacaan dan do’a.

Saat Anda sudah memahami dengan baik apa yang diucapkan, maka sesuaikan perasaan dengan apa yang diucapkan. Saat bacaan sebuah pengikraran, maka rasakan keteguhan hati dalam ikrar tersebut. Jika bacaan-bacaan pujian, rasakan kerendahan diri dan kepasarahan di hadapan-Nya. Saat do’a yang kita baca, maka iringi dengan penuh harap.

Sekali lagi, akan ada selalu godaan. Teguhlah, jangan hiraukan semua godaan. Saat pikiran terganggu, maka kembalikan kesadaran diri Anda bahawa sedang shalat. Yakinlah Allah mengetahui dan melihat gerak-gerik kita termasuk apa yang terbetik dalam hati. Jadi jangan biarkan syaithan mengalihkan perhatian Anda.


Jagalah Tuma’ninah

Sungguh malu jika kita berharap banyak dari Allah, tetapi kita asal saat melakukan shalat. Shalat yang kita lakukan begitu cepatnya. Tidak ada shalat kilat atau ekspress, yang ada adalah shalat khusyu’. Salah satu cara menjaga pemahaman dan kesadaran dalam shalat atau tuma’ninah. Luar biasa, Allah memerintah kita agar khusyu’ dan kita pun dibekali dengan sebuah teknik untuk menjaga kesadaran kita, yaitu tuma’ninah.

Tuma’ninah akan menjadikan diri kita tenang dan rileks sehingga kita akan mampu menjaga kesadaran kita. Jika kita mampu menjaga tuma’ninah maka akan sangat membantu kita mendirikan shalat dengan khusyu’. Sayangnya masih banyak orang yang tidak memberikan perhatian besar pada tuma’ninah yang terlihat shalatnya begitu terburu-buru.


Tuma’ninah adalah bagian dari shalat dan sekaligus menjadi media kita agar semakin khusyu’. Apa itu tuma’ninah?


“Apabila kamu rukuk letakkanlah kedua telapak tanganmu pada lututmu, kemudian renggangkanlah jari-jarimu,lalu diamlah, sehingga setiap anggota badan (ruas tulang belakang) kembali pada tempatnya.” (HR Ibnu khuzaimah dan Ibnu Hibban).


Kembali kepada tempatnya artinya kita melakukan dengan sempurna dan ada waktu yang cukup agar tubuh kita mengatur diri pada tempatnya. Inilah yang akan menjadikan kita rileks.

Dari Abu Hurairah, sesungguhnya Nabi Shalallahu’alaihi wasallam pernah masuk masjid. Nabi bersabda : “Apabila kamu berdiri shalat bertakbirlah, lalu bacalah ayat yang mudah bagimu, kemudian rukuklah sehingga tuma’ninah dalam keadaan ruku’, kemudian bangkitlah sehingga i’tidal dalam keadaan berdiri, kemudian sujudlah sehingga tuma’ninah dalam keadaan sujud, kemudian bangkitlah sehingga tuma’ninah dalam keadaan duduk, ke-mudian sujudlah sehingga tuma’ninah dalam keadaan sujud kemudian berbuatlah demikian dalam semua shalatmu. ” (HR. Bukhari, Muslim dan Ahmad).

Tuma’ninah ini sangat penting, bahkan para ahli fiqh banyak yang memasukan ke dalam rukun shalat, jika tidak ruma’ninah, shalatnya tidak diterima, seperti dijelaskan oleh Rasulullah saw dalam sebuah hadits:

Abu Hurairah r.a. meriwayatkan, bahwa Rasulullah Saw masuk ke masjid dan scorang laki-laki juga masuk ke masjid mengerjakan shalat, kemudian menghampiri Rasulullah Saw dan mengucapkan salam kepada-Nya. Rasulullah Saw menjawab salamnya dan berkata: 

Kembalilah! ulangi shalatmu, sebab “kau belum mengerjakan shalat. la kembali dan, mengerakan shalatnya dengan cara yang sama sebagaimana ia telah lakukan terlebih dahulu, dan kembali dan menyalami Rasuluflah Saw. Baginda berkata kembalilah! Ulangi shalatmu karena kamu belum meakukan shalat. Ini terjadi sampai tiga kali.

Kemudian lelaki itu berkata: Demi Dia yang mengutus kamu dengan kebenaran ! Saya tidak dapat melakukan shalat lebih baik daripada ini. Oleh sebab itu ajarilah saya untuk shalat.

Rasulullah Saw menjawab: Apabila kamu berdiri untuk mengerjakan shalat ucapkan takbir (katakan Allahu Akbar), kemudian membaca (dari) Al Qur’an ayat apa saja yang kamu dapat baca. Kemudian engkau pergi ruku’ dan ruku’lah dengan tenang dan kemudian engkau berdiri dari ruku, dan berdirifah dengan tenang, dan kemudian kamu bangun dari sujud dan kamu pergi dalam qoadah (posisi duduk) dengan tenang. Kerjakan semua ini (dengan hati -hati) dalam seluruh shalatmu. (HR. Bukhari).

Maka mulai sekarang, usahakan shalat dengan tenang. Memang ini sebuah tantangan bagi siapa saja yang biasa shalat terburu-buru. Jangan khawatir, kita pasti bisa. Kita hanya perlu membiasakan saja. Anda bisa membiasakan sendiri atau biasakan diri shalat jamaah sehingga Anda dipaksa untuk mengikuti ritme jamaah. Anda tidak bisa terburu-buru sendiri.


Jangan Abaikan Wudhu’


“Sabda Rasulullah SAW yang lain: Barang siapa memelihara baik-baik lima shalat fardfu dengan menyempurnakan wudhu’-nya dan menjaga waktu -waktunya, maka hal itu akan menjadi nur (cahaya) dan burhan (hujjah,, bukti) baginya pada hari kiamat. Dan barang siapa yang melalaikannya akan dikumpulkan kelak bersama fir’aun dan Hammann.” (Dirawikan Ahmad, ibm Hibban, Thabrani dan Al Baihaqi).


Wudhu’ itu bukan hanya membersihkan badan kita, juga membersihkan jiwa. Sehingga wudhu’ pun bisa membantu kita shalat dengan khusyu’. Untuk itu baguskan wudhu kita sebagaimana diperintahkan Rasulullah saw dalam haditsnya:

“Barang siapa berwudhu’ lalu dibaguskan wudhu’-nya dan dikerjakan shalat dua raka’at,di mana ia tidak berbicara dengan dirinya dalam berwudhu dan shalat itu sesuatu hal duniawi, niscaya keluarlah dia dari segala dosanya, seperti hari ia dilahirkan oleh ibunya.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Utsman bin Affan).
Bagaimana wudhu’ yang bagus? Kita kembali ke tuntunan Rasulullah saw, yaitu disertai dengan dzikr, mengingat Allah.

Barang siapa mengingat Allah (dzikrullah) ketika wudhu’, niscaya disucikan oleh Allah tubuhnya secara keseluruhan. Dan barang siapa tiada mengingat Allah (dzikrullah) niscaya tiada disucikan oleh Allah dari tubuhnya selain yang kena air saja.” (HR. Abdul Razaq Fifjam Ishaghir).

Sehingga saat kita akan shalat, bukan hanya tubuh, tetapi jiwa pun kita sudah dibersihkan oleh Allah. Ini akan membentuk kondisi ruhiah yang siap untuk bertemu dengan Nya via shalat.

Maka baguskan wudhu’, jangan asal basah.


Setiap basuhan dan usapan, selalu diiringi ingat kepada Allah sambil membaca do’a-do’a dengan penuh pemahaman. Ingat, bukan sekedar membasuh dan mengusap. Lahir membersihkan tubuh dan hati yang berdzikir membersihkan batin kita.



Jika Sulit Menjaga Kesadaran (Konsentrasi)

Jika saar Anda mencoba untuk mendirikan shalat dengan khusyu’ tetapi tidak bisa, Anda tidak perlu berkecil hati. Memang membutuhkan proses. Yang penting adalah Anda tidak berhenti untuk mencoba khusyu’. Teruslah berusaha untuk khusyu’ setiap mendirikan shalat sehingga lama-kelamaan Anda akan mampu mendirikan shalat dengan khusyu’.

Yang salah adalah saat merasakan kesulitan untuk mencapai khusyu’ kemudian dia mengambil kesimpulan bahwa khusyu’ itu tidak mungkin dicapai. Sehingga dia berhenti berusaha dan melakukan shalat asal shalat. Kemudian dia membela diri dengan argumen bahwa shalat khusyu’ itu sulit bahakan nyaris tidak bisa dilakukan.

Bisa jadi dia menyebutkan bahwa shalat khusyu’ hanya untuk orang-orang tertentu, orang yang sudah mencapai maqam (level) tertentu. Tidak untuk oram awam. Padahal Allah tidak pernah mengkhususkan ibadah kecuali kepada Nabi Muhammad saw, kepada yang lain Allah tidak membeda-bedakan.

Perintah shalat khusyu’ bukan perintah hanya untuk Rasulullah saw, tetapi untuk semua yang merasa umat Rasulullah saw. Jika itu diperintahkan kepada kita, artinya kita akan sanggup untuk melaksanakannya, yang penting kita mau berusaha.

Kuncinya adalah pembiasaan. Jika dulu waktu kita kecil dibiasakan shalat, maka sekarang kita membiasakan untuk shalat dengan khusyu’ bukan hanya shalat. Pembiasaanlah yang akan menjadikan kita mudah, apa pun itu termasuk mendirikan shalat dengan khusyu’.

Usahakan untuk terus memperbaiki shalat Anda dari shalat ke shalat. Shalat adalah ibadah sekaligus media pendidikan dari Allah kepada kita. Sukses meninggalkan jejak, begitu juga sukses kita dalam shalat akan meninggalkan jejak dalam hati kita sehingga shalat berikutnya menjadi lebih baik dan lebih baik lagi.


Dzikr Bisa Menguatkan Konsentrasi

Ada banyak latihan meningkatkan konsentrasi. Namun sekali lagi, Allah memerintahkan ibadah kepada kita sekaligus media pendidikan. Salah satunya dzikr. Bukan hanya balasan berupa pahala di akhirat kelak, tapi juga menyebutkan asma Allah dan kalimat-kalimat baik lainnya adalah upaya penanaman ke dalam hati kita.

Apa lagi saat kita tergetar saat menyebutkan nama Allah. Ini akan membekas di hati kita, semakin lama akan semakin dalam sehingga akan membangun kesadaran kita akan kehadiran Allah semakin tinggi. Ini akan menuntun kita untuk shalat lebih khusyu’ lagi.


Jadi jangan buru-buru pergi setelah kita mendirikan shalat. Lakukan dzikr yang dicontohkan Rasulullah saw. Lakukan dengan sepenuh hati, bukan hanya di mulut dan mengejar bilangan, tetapi sampai menghujam ke dalam hati.


Dzikr juga menjadikan hati tenang dan ketenangan ini akan membantu kita agar mampu shalat khusyu’.


(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram. (QS Ar Ra’d:28)

Kapan dzikr dilakukan? Kapan saja. Ada dzikr sehabis shalat. Ada dzikr pagi dan petang. Ada dzikr sebelum tidur. Juga waktu-waktu lainnya selama tidak dilarang, bahkan setiap saat kita harus selalu ingat kepada Allah agar hati selalu tenang. Hati tenang akan memudahkan kita untuk mendirikan shalat dengan khusyu’.


Tasmi’ Qur’an Untuk Meningkatkan Konsentrasi

Teknik lain yang bisa dilakukan untuk meningkatkan konsentrasi ialah dengan tasmi’ (mendengarkan) bacaan Al Quran. Teknik ini selain meningkatkan konsentrasi sehingga mudah khusyu’ juga akan membaguskan bacaan serta mendapatkan pahala dari membaca dan belajar Al Quran.

Tekniknya ialah kita mendengarkan bacaan orang lain sambil mata kita dan hati kita mengikuti bacaan tersebut huruf demi huruf. Ya, latihan Anda sambil membuka mushaf Al Quran. Orang lain (atau kaset) membaca, Anda melihat bacaan itu di mushaf dan usahakan mata Anda sesuai dengan bacaan yang Anda dengar.

Saat Anda kehilangan konsentrasi, Anda akan melewatkan huruf, kata, bahkan ayat. Maka latihlah jangan sampai ada satu huruf pun yang terlewat. Mungkin untuk tahap awal, Anda bisa konsentrasi untuk satu ayat, kemudian setengah halaman, kemudian satu halaman, dan seterusnya.

Target minimal adalah Anda mampu konsetrasi melakukan tasmi’ ini selama 3 kali waktu shalat. Misalnya, jika waktu shalat secara perlahan, tartil, dan tuma’ninah itu membutuhkan waktu 15 menit, maka latihlah konsentrasi Anda sampai mampu selama 45 menit.

Untuk pertandingan sepak bola saja kita latihan habis-habisan, maka untuk shalat kita harus latihan lebih baik lagi karena untuk kebaikan dunia dan akhirat. Kemampuan Anda konsentrasi, tidak mudah terganggu oleh hal lain baik gangguan dari luar maupun lintasan pikiran sendiri akan sangat membantu untuk mendirikan shalat dengan khusyu’.

Saya katakan bahwa kemampuan konsentrasi bisa membantu, tetapi bukan yang utama. Yang terpenting dalam meraih kekhusyu’an itu adalah keimanan. Hal terpenting untuk kita lakukan ialah membina keimanan kita terus menerus, jangan sampau luntur. Jika futur, segera naikan kembali.


Jadi untuk mencapai shalat khusyu’ bisa dilakukan ikhtiar secara lahiriah diantaranya tuma’ninah dan melatih konsentrasi juga dengan peningkatan ruhiah yang tiada lain dengan banyak melakukan ibadah-ibadah lain seperti dzikr.


Kunci untuk meraih shalat khusyu’ adalah kemauan yang didorong oleh keimanan bahwa kita akan kembali kepada-Nya.